Cerita dari Jeruji ke Eropa

Malam itu, dimulai dengan mencari motor Graha yang entah dimana di parkiran. Motor yang saya tumpangi, milik Raksa, enggan untuk beranjak dari tempat parkirnya. Motornya kehabisan bensin. Alhasil kami terpaksa untuk mendorong motor dari parkiran bawah kampus menuju gerbang motor dengan jalanan yang menanjak. Setelah berhasil keluar dari kampus pun, kami harus berhadapan dengan polisi, terpaksa saya turun dulu-lalu jalan-kemudian naik lagi.

Akhirnya kami pun tiba di Rumah Cemara yang lokasinya selalu saya lewati selama hampir 8 tahun di Bandung. Malam itu adalah pertama saya memasuki Rumah Cemara. Serasa bukan di Geger Kalong Girang saat itu, kaos serba hitam menghiasi sebagian ruas jalan yang biasanya dipenuhi orang memakai baju muslim berlalu lalang.

 Waktu hampir pukul 8 lebih ketika Gebeg yang didaulat sebagai pembawa acara malam itu, mengajak para pengunjung yang masih asik bertegur sama dengan kawan, atau sekedar menyantap liweut dan berbagai kudapan yang dihidangkan. Bibin selaku perwakilan dari tuan rumah, Rumah Cemara, memberikan sambutan hangat secara singkat, padat dan mengundang tawa. Kemudian Reggi memberikan pengantar bertutur tentang cerita singkat skena Bandung dan menjelang perjalanan Jeruji ke Eropa.

Acara yang bertajuk Jeruji di Eropa: Jauh Dijugjug Anggang Diteang berhasil membuat Jum’at malam saya penuh tawa. Jeruji yang malam itu minus Pengex yang tak dapat hadir, berhasil bertutur mengenai perjuangan mereka menjalani tur panjang yang menempuh jarak kurang lebih 8950km dengan paripurna dan penuh canda tawa. Tur panjang yang tak pernah mereka bayangkan, berawal dari e-mail masuk di penghujung tahun 2016 yang ditanggapi kurang serius oleh Andre pertama kali, lalu Andre berdiskusi dengan ke empat kawan lainnya yang kala itu juga sedang mengerjakan Album kelima mereka “Stay True”. Alasan nyeleneh “Eropa tiris pas ahir taun, karunya barudak” yang membuat mereka memutuskan untuk melakukannya pada April kemaren.

Tak sedikit hambatan yang telah Jeruji lalui untuk melakukan tur ini, mulai dari kebingungan yang terus melanda Ginan, vokalis Jeruji, sampai beberapa jam sebelum mereka berangkat dari Bandung. Senada dengan Ginan, Andre berkeyakinan serupa sebelum berangkat, hal ini diamini oleh penuturan Reggi di awal diskusi.

Mereka melakukan tur kali ini tak membawa  mereka. Sehingga pengalaman bermain di negara orang yang jauh ini sangat berharha sekali. Ada kejadian menarik yang dialami Jeruji ketika seseorang penonton di saat mereka tur bertanya kenapa kalau personil Jeruji ini berisi orang – orang dengan latar belakang yang berbeda. Penonton tersebut terheran karena, pun juga para personil Jeruji, tutur Andre.

Pencapaian Jeruji saat ini adalah buah dari kerja keras mereka selama hampir 20 tahun di dunia musik. Konsistensi dan tetap terus menghasilkan karya merupakan fondasi utama yang menjadi mereka sebesar sekarang ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s