Cinta di Reruntuhan

Biru di langit sudah memudar, terang pun menjadi gelap. Ibu belum juga pulang padahal Lara sudah menyiapkan makanan kesukaannya, nasi liwet dan sambal lalap. Biasanya jam segini mereka sudah makan bersama dengan lahap. Keterlambatan Ibu membuat rasa cemas Lara meningkat secara bertahap. Ditambah pula kesal bercampur doa yang ia bisikan dalam hati penuh harap. Jam tua berwarna kuning yang menempel di dinding tak hentinya ia tatap. Detik terus berganti membuat ia merasakan ruangan tamu berbentuk persegi yang tak begitu luas semakin pengap. Sempat ia terpikir untuk membakar sebatang rokok agar cemasnya terselimuti asap.

Tak lama, derap langkah kaki menginjak genangan air dari kejauhan membuat Lara penasaran. Bunyi rintik air hujan diiringi suara orang semakin jelas terdengar hingga ada yang mengetuk pintu depan. Ibu datang dengan pakaian sedikit basah terkena air hujan. Lantas Lara segera pergi ke dapur untuk menyediakan minuman. Lara membuat teh manis yang dapat memberi rasa hangat dan melepas dahaga sehabis perjalanan. Kemudian Ibu menjelaskan bahwa ia tadi berada di rumah Pak RW yang berada di ujung jalan. Ibu bersama warga lainnya melakukan konsolidasi terkait putusan dari pengadilan. Tapi Ibu tak banya membahas tentang temu warga, Ibu segera mengajak Lara untuk makan. Wajah  lelah Ibu berganti dengan senyuman. Selama makan Ibu hanya memuji masakan yang Lara hidangkan. Tak terucap sepatah kata pun mengenai rencana terkait persidangan. Lara pun enggan bertanya dan mencoba mengerti Ibunya selain karena Lara segan. Ibu bergegas tidur sehabis makan. Setidaknya dalam tidur Ibu bisa mewujudkan impian.

Lara tak bisa tidur meskipun sudah larut malam. Ia pun menghabiskan malam dengan menonton acara televisi yang menampilkan percakapan makhluk beda alam. Sesekali ia melirik ke kamar ibunya di sebelah kiri dengan cahaya lampu yang temaram. Lalu ia membakar rokok yang ada dihadapannya karena mulutnya sudah berasa asam. Duduk termenung sendirian di depan televisi dengan rokok diapit diantara jari lentiknya malah membuat diri Lara semakin muram. Ia hanya ingin segera tidur dan bermimpi bertemu ayahnya yang sudah berbeda alam.

***

Meskipun baru beberapa saat di buka, toko yang berada di persimpangan jalan itu sudah ada pembeli. Jemari Lara sudah siap untuk menjamah mesin kasir dari tadi pagi. Riasan wajah yang tak cukup menor, rambut Lara yang panjang pun diikat, tak lupa gincu merah merona pun menghiasi. Guna memberikan senyum manis bagi pembeli setiap hari. Lara yang sebenarnya ingin melanjutkan kembali kuliahnya menjalani pekerjaannya saat ini dengan setengah hati. Kematian ayahnya memaksa ia menjadi tulang punggung keluarga saat ini.

Mata Lara tertuju ke layar televisi yang berada di pojok kanan atas toko sambil duduk menunggu barang dagangannya. Wajah ibunya terpampang jelas ada di sana bersama dengan warga lainnya. Penggusuran yang akan dilakukan di daerah rumah Lara lah yang membuat Ibunya dan warga yang lain melakukan aksi unjuk rasa. Pikiran Lara pun tak menentu, ia memikirkan Ibunya yang tak member tahu dirinya. Lara mencemaskan bahwa aksi yang dilakukan akan berakhir dengan kericuhan, karena ia menyadari ada organisasi masyarakat yang biasa mengawal penggusuran berada bersama Ibunya di sana. Kombatan – kombatan dari ormas ini siap menyerang siapa saja yang menghalangi tujuan utama majikannya. Tatapan mata Lara tak bisa lepas dari layar kaca.

***

Air mata tak henti keluar bercucuran. Isak tangis mengiringi mewakili perasaan. Sanak saudara hingga tetangga berdatangan. Mereka kebanyakan memakai baju hitam dengan muka penuh kesedihan. Lara menantap terakhir kali wajah Ibu dengan nanar dan masih berharap hal ini bukanlah sebuah kenyataan. Lara mengecup kening Ibu diselipi dengan doa bertemu kembali di surga yang diidamkan.

Langkah kaki dan isak tangis mengiri jenazah Ibu yang berada di keranda. Lara mencoba tegar menahan air mata mendampingi Ibu menuju pusara. Lara mengikuti prosesi pemakaman hingga tubuh Ibu sudah ditutup tanah dengan kayu bertuliskan namanya.

Kini hanya Lara sendiri yang harus menghadapi kerasnya dunia. Ibu yang selalu berbagi cerita tentang kehidupan telah tiada. Sosok Ayah pun tidak pernah ia temui lagi sebelum usia Lara genap di tahun kelima. Rumah susun yang kini Lara tempati hanya menambah duka. Rusun yang menjajikan semua keberadaban hidup di dunia hanya menjadi dinding penghalang yang dihiasi dengan cerita duka.

***

Lara pulang cepat hari itu, ia melewati jalan kampung yang dipenuhi spanduk penolakan penggusuran tanah. Beberapa tetangga sudah membereskan barang berharga mereka untuk segera meninggalkan rumah. Ibu pun terlihat di depan rumah sedang menatap ke tempat yang ia tempati hampir setengah hidupnya sebagai tempat singgah. Lara pun menyapa Ibu dan bertanya apakah mereka akan berkemas seperti tetangga sebelah. Ibu menjawab dengan pilu bahwa ia sebenarnya berat hati untuk pindah.

Malam menjelang, Lara dan Ibu melakukan kegiatan rutin mereka. Makan malam bersama. Ini adalah makan malam terakhir di rumah berdua. Makan malam itu tetap dihiasi Ibu dengan canda tawa. Lara pun membalas dengan senyum merona. Mereka bersikap seolah tidak terjadi apa – apa.

Sebenarnya, Ibu dan warga lainnya memenangkan gugatannya di pengadilan. Tapi apa daya, penguasa dan juga pengusaha selalu mempunyai cara untuk memuluskan jalan. Penguasa mengubah nama perusahaan sehingga SK baru pun diterbitkan. Penggusuran akan tetap dilaksanakan. Beberapa warga ada yang bertahan melawan. Tak sedikit dari mereka mendapat teror kekerasan. Ibu pun sempat mendapat ancaman ketika masih bersikukuh melakukan perlawanan. Malahan, ketua RT mendapatkan pukulan dari preman bayaran. Penguasa yang dikuasai oleh pengusaha merupakan musuh utuma rakyat kecil korban penggusuran. Kombinasi penguasa dan pengusaha bagi mereka lebih menakutkan daripada setan. Begitulah Ibu menuturkan cerita singkat perlawanan warga kepada Lara yang sedang mengemasi barang bawaan.

Lara dan Ibu pun menunggu mobil angkutan. Mereka pindah ke rumah susun yang sudah ditetapkan. Karena Ibu tidak punya pilihan untuk menyewa rumah kontrakan dengan penghasil pas – pasan. Rumah susun yang disediakan penguasa tidak lah begitu mengesankan. Rusun yang mereka tempati jauh melenceng dari apa yang dijanjikan. Para korban gusuran tepat harus membayar biaya sewa yang tidak sepadan. Fasilitas air bersih dan listrik pun menjadi bahan obrolan. Air mengalir setetes demi setetes dan berbau, sehingga banyak penghuni rusun harus menadah air hujan. Instilasi listrik yang belum terpasang dengan aman. Belum lagi bagi warga yang dulu berjualan di rumah, kini mereka kehilangan lading penghasilan. Lara pun harus merogoh kocek yang lebih untuk sekedar pergi ke tempat kerja karena jarak tempat kerja dan rusun yang berjauhan. Pengeluaran Lara yang bertambah tidak diiringi dengan penambahan penghasilan. Ibu pun harus memutar otak untuk mencari pekerjaan. Akhirnya Ibu bekerja sebagai buruh cuci keliling, dulu Ibu bekerja di industri kerajinan tangan rumahan yang kini hanya tinggal kenangan.

Kini, Lara dan Ibu jarang makan malam bersama. Lara merasakan kelahan yang begitu berat sehingga seolah tidak ada waktu untuk berbagi cerita. Pun Ibu, yang setiap malam menatap kosong telivisi yang menyungguhkan acara komedi yang mengundang gelak tawa. Stres yang dialami oleh Ibu karena keadaan yang semakin memburuk setelah penggusuran dan pindah ke rusun yang menambah derita. Hal ini pun membuat kesehatan Ibu yang setiap hari semakin menurun saja.

Sampai suatu malam, Ibu mengajak Lara kembali makan malam bersama. Meskipun pada saat itu tubuh Ibu ringkih tak berdaya. Lara pun menuruti ajakan Ibunya. Lara memasak nasi liwet dan sambel lalap kesukaan Ibu agar Ibunya sedikit bahagia. Akhirnya mereka berdua kembali makan bersama dan berbagi cerita. Kala itu, Lara kembali melihat Ibu tersenyum sumringah setelah sekian lama. Dibalik senyum Lara terselip do’a agar Ibunya diberikan kesembuhan dan mereka masih bisa hidup berdua bersama. Tapi Tuhan mempunyai rencana yang berbeda. Makan malam itu adalah malam terakhir Ibu dan Lara bercengkarama. Keesokan pagi, Lara mendapati Ibu tertidur sudah tak bernyawa ketika hendak pamit berangkat kerja

***

Lara pun bergegas membereskan barang dagangan karena ia mempunyai janji dengan Galih, pacarnya. Galih mengajak Lara untuk berkeliling kota. Galih adalah pria yang Lara temui ketika ia bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi di pusat kota. Galih juga menjadi tempat Lara berbagi cerita suka dan duka setelah Ibu meninggal Dunia.

Galih pun sudah menunggu di depan took dan siap mengajak Lara jalan – jalan. Lara pun melingkarkan tangannya di pinggang Galih, memberikan pelukan. Galih belum sempat bertanya kemana mereka akan pergi, Lara sudah berbicara saja kalau Galih lah yang harus menentukan. Pilihan Galih pun akhirnya mengajak Lara untuk pergi ke taman. Lebih tepatnya tempat makan bernuansa taman. Setibanya di lokasi, Galih mendapati muka Lara penuh kesedihan. Galih kaget karena selama perjalanan Lara penuh tawa kebahagian. Akhirnya, Lara pun menjelaskan bahwa dulunya tempat ini adalah rumah Ibunya dan ia pun menjelaskan bahwa ia adalah korba gusuran. Air mata tak sadar menetes dari wajah Lara yang kelelahan. Lara pun melanjutkan ceritanya, Galih pun mendengarkan. Lara kemudian teringat percakapan dengan Ibu saat makan malam terakhir sebelum Ibu menghadapi kematian.  Lara sampai saat ini masih mengingat apa yang Ibu katakan. Ibu berkata, tenanglah Nak, kamu hadapi saja kehidupan, Ibu akan mengadukan langsung semua yang dilakukan penguasa kepada Tuhan.

*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s