Salah Jalan

img_4856

Gemerisik suara air hujan menghujam genteng rumah membuat pagi semakin berat untuk dijalani. Rasa dingin merasuk ke tulang menambah kekuatan gravitasi bumi yang seakan terpusat pada kasur berbalut sprei berwarna merah lusuh belum dicuci. Raka memaksakan mata melawan kantuk yang masih tersisa melihat jam dingding yang sudah menunjukan pukul enam. Dingding kamar dengan jendela dua di samping ranjang, ia pun membuka jendela yang menampilkan pemandangan tembok rumah tetangga tinggi menjulang menutup cahaya mentari sehingga nampak mentari selalu terbenam. Raka kemudian membereskan meja, entahlah meja kerja, belajar, atau pun bermain game, yang berantakan dan penuh dengan abu rokok sisa semalam. Raka duduk termenung tak jelas di kursi depan meja hingga suara Ibu memanggil namanya dengan keras dan tajam. Raka tersadar dari renungannya yang mungkin kelam.

Di dapur, Ibu sudah memasak ikan goreng dan sayur lodeh kesukaan Raka. Raka datang dengan muka masih basah dan langsung duduk di meja makan yang masih berada satu ruangan dengan dapur tempat ibunya memasak makanan kesukaannya. Ibu meminta diantar ke undangan nanti siang sekalian pergi berbelanja kebutuhan bulanan berkeluarga. Dengan muka masih melawan kantuk Raka pun menjawab iya. Ibu pun mempercepat guna menghidangkan sarapan untuk Raka, tak tega melihat anaknya yang kelihatannya sudah kelaparan. Selain itu, Ibu menyadari kalau ia membutuhkan waktu yang tak sebentar agar dandanannya terlihat elegan sewaktu pergi ke undangan.

Jarum panjang pada jam dinding berwarna putih berbentuk bulat sudah tertuju ke angka sepuluh. Ibu mencari amplop putih yang biasanya ada pojok atas lemari sembari memanggil Raka berharap ia sudah dalam keadaan bada terbasuh. Raka pun tak ingin Ibunya berpeluh. Segeralah dinyalakan motor tanpa gigi keluaran tahun dua ribu sepuluh.

Dengan helm menutupi kerudung Ibu yang dibuat sedemekian rupa dan menghabiskan waktu tak sebentar. Seraya menggurutu dalam hati bahwa pergi ke undangan menggunakan motor adalah tindakan yang tidak benar. Keadaan ini bisa membuat make up Ibu memudar. Apalagi saat itu cuaca sudah panas dengan matahari yang bersinar. Bukanlah Ibu namanya kalau tidak menjalani keadaan itu dengan sabar. Anaknya memulai obrolan karena mengerti kalau Ibu merasa naik motor bukanlah pilihan pas. Baru keluar rumah sejauh delapan ratus meter saja, banyak kendaraan berbaris tak rapih tak dapat berjalan bebas. Raka melaju di lajur kiri dengan pelan, ada pemotor yang menggunakan trotoar karena tak sabar akan kemacetan dengan buas. Lantas yang lain pun mengikuti, tancap gas. Teringat bahwa ia bersama Ibu, Raka tak melakukan hal serupa. Kemacetan yang selalu terjadi tiap akhir pekan karena kota kreatif ini tujuan wisata. Raka dengan sabar memacu motornya melewati ruas jalan yang seakan menyempit dari empat lajur menjadi satu lajur di pertigaan sana. Raka mengingat masa SMA dimana jalan yang dilewatinya sekarang hanya mempunyai satu titik kemacetan saja. Dulu, hanya factory outlet yang berada di samping restoran saja sumber kemacetan karena banyak orang belanja. Sekarang, seakan kawasan resapan air ini selalu berwarna merah di geogle maps karena banyak outlet yang menawarkan segala kemewahan dunia. Ruang terbuka hijau diganti pilar – pilar beton yang menjulang tinggi ke angkasa. Pemerintah selalu mempunyai alasan berkilah jika kemacetan terjadi dimana – mana.

Mereka berhasil melewati kemacetan dan baru setengah jalan menuju tujuan. Ibu pun menyanjug Raka atas apa yang ia putuskan. Menggunakan motor dan bercengkrama bersama anak di tengah kepenatan kota bukanlah hal yang membosankan. Mesekipun di depannya kemacetan dengan gagah masih menghadang. Kali ini, proyek pembangunan jalan layang di perempatan menjadi sumber penghalang. Kendaraan dari empat penjuru mata angin beruntun mengular panjang. Perempatan yang terbiasa dengan kemacetan dari waktu pergi hingga pulang kerja, dari pagi hingga petang. Raka dan Ibu pun tida di lokasi pukul setengah dua belas siang.

***

Raka menunggu Ibu yang bercengkrama dengan temannya sembari menikmati salad dan menggeserkan telunjuk dari layar ponselnya. Teringat akan janjinya bertemu dengan Kara pukul dua. Bergegas menghampiri Ibu meminta izin untuk pulang duluan, Ibu pun memberikan jawaban iya.

Hujan pun turun dengan deras ketika Raka memacu kendaraannya dengan tergesa-gesa. Air dari gorong-gorong meluap ke jalan raya. Banjir pun melanda seketika dan melumpuhkan kota. Raka tanpa pikir panjang terus memacu motornya. Akselerasi maksimum dipacunya, namun apa daya jalanan macet karena banyak kendaraan mogok. Raka pun mengambil jalan alternatif agar perjalan pulangnya tak mentok. Banyak pengendara yang berteduh di bawah jalan layang, membuat kemacetan yang tak terhindarkan. Raka pun terus melaju tanpa menggunakan jas hujan. Menorobos kemacetan guna menepati janji seorang teman.

Sebenarnya Kara bukan sekedar teman bagi Raka, ia ingin menjalin hubungan dengan Kara lebih dari sekedar teman. Kara adalah tempat berbagi cerita yang membuat Raka nyaman. Kenal semenjak ospek hari pertama di kampus, Kara adalah sosok wanita idaman. Namun, Raka tak mempunyai keberanian untuk menyatakan perasaan.

Hari ini, janji dengan Kara pukul dua di sebuah kedai kopi di pusat kota. Adalah hari yang dirasa tepat oleh Raka untuk menyatakan perasaannya.

Raka tiba di rumah dengan keadaan basah kuyup, jam pun menunjukan pukul satu. Ia bergegas untuk segera mandi tanpa sempat makan siang dulu. Dengan tergesa ia merapihkan tampilannya, celana jeans belel dan sepatu boots dipakainya, tak ketinggalan kaos band idolanya waktu SMA dulu. Raka tahu kalau Kara adalah orang yang tepat waktu. Hal ini membuatnya terburu – buru. Hujan pun mulai mereda, namun langit masih mendung kelabu.

Motornya seolah menolak untuk mendukung keinginan Raka untuk tepat waktu. Motor mogok karena mesin kemasukan air hujan hamper membuat jalan pikiran Raka buntu. Ia pun terpaksa untuk menggunakan ojeg on-line untuk pergi ke tempat yang dituju. Raka terus diburu waktu. Jarum pendek jam perlahan meninggalkan angka satu. Kemacetan pun tak terelakan, apalagi jalan satu – satunya menuju ke tempat perjanjian sedang dibangun skywalk kala itu. Meskipun menggunakan ojeg, Raka tak bisa berbuat banyak karena selain macet jalanan pun masih dilanda banjir. Sebenarnya bukan hal baru jalanan ini terkena banjir. Hujan berskala sedang saja mampu membuat jalan yang dilewatinya itu terendam air. Raka berharap Kara dapat menunggunya dengan ditemani paitnya kopi yang menempel di bibir.

Keringat yang mengucur di muka Raka berharap tidak menjadi jerawat. Raka pun terlambat. Jam pun sudah menunjukan pukul empat. Ia membayar ojeg dengan tergesa sehingga menerima uang kembalian pun tak sempat. Mata Raka mencari dimana Kara duduk, namun setelah mengitari dan bertanya kepada pelayana ternyata Kara sudah tidak ada lagi di tempat. Ia pun mengeluarkan ponsel pintar untuk menanyakan keberadaan Kara sembari menunggu pesanan kopi datang agar badannya sedikit hangat. Raka akhirnya mendapatkan kabar bahwa Kara sudah berada di rumahnya, Kara akan berlibur selama seminggu ke luar kota bersama keluarga jadi ia harus pulang cepat. Kara telah menunggu Raka selama satu jam seperempat. Begitu penjelasan Kara melalui pesan singkat. Raka meminta maaf dan menejalaskan bahwa kemacetan kota yang membuatnya terlambat. Kopi pun datang dengan warna hitam dan aromanya yang pekat. Raka pun menikmati kopi guna menurunkan amarah yang membuat kepala penat. Di dalam hati ia tetap mengumpat. Jalanan bangsat!!!

***

Petang pun menjelang, Raka lantas berpikir untuk tidak langsung pulang. Ia pergi ke kosan Gaya, teman sekelasnya, sesame mahasiswa tingkat akhir yang masih lajang. Kosan Gaya terletak tak begitu jauh dari rumah Raka, di sana tempat berkumpul Raka, Gaya dan lainnya sehingga sering disebut kosan bujang. Raka tak perlu member kabar kepada Gaya karena ia tahu kalau akhir pekan Gaya pasti ada di kosan dari petang hingga pagi menjelang.

Raka tiba di kosan Gaya dengan mata yang disuguhi pemandangan seperti biasa. Asap mengempul menyelimuti ruangan yang bersumber dari rokok kretek di asbak yang berada di samping laptop yang berhadapan dengan Gaya yang sedang menjelajahi dunia maya. Tanpa izin terlebih dahulu Raka membakar rokok yang terletak di atas meja. Setelah membereskan hisapan pertamanya, Raka kemudian memulai cerita tentang kejadian yang baru dialaminya. Gaya mendengarkan dengan seksama seraya mata tertuju ke layar monitor di depannya.

Setelah mendapat cerita dari Raka, Gaya serasa mendapat teman sependeritaan. Dan lebih meyakinkan dirinya bahwa apa yang yakini bukanlah sebuah bualan. Gaya bukannya tidak ingin berpacaran. Tak sedikit wanita yang tertarik pada Gaya dan ingin dijadikannya tambatan. Ia hanya memiliki keyakinan bahwa pacaran di kota ini hanya menimbulkan penderitaan. Gaya sudah malas untuk mengawali sebuah hubungan. Ia malas untuk pergi jalan – jalan di tengah kemacetan. Ia enggan untuk berjanji dengan lawas jenis hanya untuk sekedar makan. Karena ia tahu, menepati janji dengan tepat waktu hanyalah khayalan. Apalagi sekarang, banyak proyek pembangunan jalan, perbaikan trotoar yang memakan ruas jalan. Itu pun belum ditambah dengan hari libur atau pun hanya sekedar akhir pekan. Belum pula ketika banjir melanda karena datangnya hujan. Kemacetan pun semakin tak terelakan.

Tak lama, datanglah Satria dengan muka menekuk terlihat memancarkan peluh. Raka dan Gaya kaget, mereka berpikir bahwa Satria masih menikmati malam Minggu dengan Jingga, dan baru datang ke sana pukul sepuluh. Tanpa ditanya, Satria langsung bercerita tentang kejadian hari ini yang tak berujung indah. Gaya dana Raka mendengarkannya seraya membakar kembali rokok karena pahit sudah terasa di lidah. Satria dan Jingga baru saja berpisah. Kisah percintaan Satria dan Jingga pun kandas sudah.

Satria menjelaskan bahwa ia terlambat untuk menjemput Jingga dari rumah. Ia beralasan kemacetan jalan yang membuatnya terlambat, ia pergi seperti biasanya jam tiga dari rumah. Satria tiba di rumah Jingga jam setengah lima, tak seperti biasanya perjalanan selama itu sehingga menggagalkan untuk Satria tampil gagah. Alasan yang diberikan Satria pun Jingga bantah. Terpancar dari wajah Jingga hanya amarah. Akhirnya mereka pun lantas pergi jalan mencari tempat makan agar suasana kembali indah. Satria tak tahu tujuan mereka kemana, hingga Jingga pun melontarkan kata terserah. Tak bertemunya titik temu akhirnya mereka kembali ke rumah. Keduanya tak dapat membendung amarah. Hingga akhirnya keluarlah kata pisah.

Mendengar kejadian Satria yang serupa dialami juga oleh Raka, Gaya pun mengeluarkan sumpah serapah. Raka merasa lega karena bukan hanya dirinya yang bernasib papah. Satria pun hanya bisa menghisap rokok dan bersikap pasrah. Namun semuanya masih telihat pongah. Tak mau kalah gagah. Saling mengejek satu sama lain agar tak terlihat lemah. Dalam hati mereka semua bersepakat bahwa jalanan yang salah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s