Menara Angkara

cover copy

Seperti yang telah dijanjikan dan digadangkan sebelumnya, pada akhirnya Merana Angkara terbitan pertama telah terbit 26 Agustus dalam bentuk cetakan. Edisi pertama hanya dicetak terbatas sebanyak 8 eksemplar kemarin karena memang harus terpaksa terbit dan keterbatasan waktu. Di edisi kali terdapat dua kontributor yang ikut menyumbangkan tulisannya; Si Tua Biru dan Cokslem. Jika kalian ingin membaca edisi cetak, silahkan saja kalian bisa mendapatkan dengan cuma-cuma tak perlu membayarnya hanya cukup membacanya saja, hubungi saja saya. Dan jika kalian ingin mempunyai versi digitalnya silahkan saja, tautannya ada di bawah tulisan untuk mendapatkan e-zine dari Menara Angkara, terdapat dua versi; resolusi tinggi dan biasa, silahkan saja pilih sesuka kalian. Bila kalian enggan untuk mengunduh dan lebih suka untuk membacanya di dunia maya maka kalian bisa baca di sini.

Dan bila kalian mengganggap zine yang disuguhkan kurang menarik, maka kalian bisa datang ke Bandung Zine Fest 2016 yang akan digerlar kemarin (kalau klian punya mesin waktu). Menara Angkara tidak ambil bagian dalam acara tersebut tapi sebagai penikmat zine dan media alternatif akan merugi jika tidak berkunjung kesana. See ya!!

Menara Angkara issue 1 (resolusi tinggi)

Menarra Angkara issue 1 (lite version)

poster

Advertisements

2 thoughts on “Menara Angkara

  1. […] Entah apa yang ada di otak saya, saya sendiri tidak tahu, ketika tak sedikit orang menyambut antusias perhelatan olahraga terbesar di Indonesia yang kali ini dilaksanakan di Jawa Barat, seperti yang ditasbihkan oleh pemerintah provinsi sendiri bahwa Jabar harus menjadi tuan rumah yang sukses dan menjadi juara umum, mungkin hasil dari PON ini bisa menjadi bekal untuk sang-Gubernur-yang-akan-lengser untuk mencalonkan diri menjadi RI1 setelah gagal di pemilihan sebelumnya. Ah sudahlah, jangan dulu berburuk sangka sama beliau. Tulisan ini juga bukan tulisan pertama saya mengenai ajang empat tahunan ini, tulisan sebelumnya sudah dimuat di zine. […]

    Like

  2. […] Aku seperti kehabisan tinta untuk menulis padahal banyak waktu luang yang kuhabiskan. Mata pena memang sudah berkarat. Agar aku tak jatuh lebih dalam ke zona pena-menolak-kembali-terisi, kali ini aku datang dengan wacana yang bisa dibilang baru bagiku. Aku akan mengulas buku yang baru beres aku baca, dan kunamai dengan “Apa yang Aku Bicarakan ketika Aku Selesai Membaca”. Tajuk yang tak asing bagi para penggemar Haruki Murakami, karena aku memang terinspirasi dari dia. Sebenarnya sudah lebih dari jari yang ada pada tubuh buku yang sampai selesai dibaca tapi tak satu pun yang sempat aku tuangkan dalam tulisan. Memilukan. Aku lebih memilih menghabiskan waktu memakai gawai untuk bermain NBA Live ketimbang melanjutkan apa yang sudah aku mulai, Merana Angkara. […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s