Kalian cuma latah! Hak anak Indonesia semua terpenuhi!

Anak yang ikut dalam MayDay kemarin

Setelah dihebohkan reshuffle kabinet yang terjadi di penghujung Juli dengan sorotan utama penggantian Mendikbud dan “sang anak emas ibu” luput dari sergapan demisioner, kini sang successor pun menjadi buah bibir dengan wacana sekolah sehari penuh. Kemudian banyak yang latah berkomentar dengan lantang dan berseru di dinding maya dengan berbagai alasan yang dikemukan. Sang menteri pun ikut memberikan alasannya.

Mencoba untuk mengikuti arus dan latah untuk berkomentar mengenai kebijakan tersebut rasanya hal yang lumrah yang saya lakukan. Tadinya tulisan ini bertujuan untuk hal tersebut, namun saya mengurungkan niat karena sudah terlalu banyak komentar baik dan miring mengenai wacana tersebut. Tulisan ini mencoba menggugah brangkal ingatan kita tentang kehidupan anak di Indonesia.

Banyak yang berpendapat bahwa hak anak banyak yang direbut ketika wacana tersebut sudah menjadi aturan, terutama hak bermain anak. Kata siapa? Apakah benar hak itu sudah direbut? Nyatanya tidak! Hak anak di Indonesia tidak ada yang direbut, apalagi hak bermain.

Bila hidup di daerah urban, kita dapat melihat anak kecil bermain dadagangan dengan berjualan tissue, tak sedikit pula yang menyempatkan bermain dengan air hujan menjadi ojek payung, yang lebih menegangkan adalah ketika si anak bermain kejar – kejaran dan petak umpet dengan Satpol PP. Tak sedikit pula dari mereka merajut langkah menjadi seorang penyanyi dan sudah punya pendengar setia para penumpang angkot, mereka bernyanyi lagu yang mereka suka, dengan tutup botol bekas, gitar dan bahkan ada yang sudah membuat video klip. Terbukti negara memfasilitasi hak anak untuk bermain.

Bila hidup di daerah terpencil, anak – anak bertualang mengarungi arus sungai laksana petualang yang selalu disajikan di layar kaca tiap akhir pekan. Tak sedikit banyak yang belajar bertani dan berternak seolah mereka adalah tulang punggung keluarga. Sampai ke daerah yang terpencil pun negara memfasilitasi hak bermain anak.

Untuk sarana bermain, dapat kita lihat sekarang banyak perubahan signifikan yang dilakukan oleh negara. Lapangan bola yang tadinya rumput hijau atau tanah merah kini beralaskan beton-beton, banyak lapangan bola yang menjadi semakin bagus dan aman bagi anak, urusan anak hanya untuk bermain, urusan orang tua membayar fasilitas tersebut. Ketika bermain layangan pun begitu, sekarang lawannya bukanlah layangan yang terbuat dari kertas, melainkan gedung – gedung pencakar langit dan kabel-kabel listrik pun menjadi benangnya. Dan jangan lupakan pula sekarang banyak taman bermain untuk anak yang dibangun di atas ingatan masa kecil orang tuanya, tempat bermain yang didirikan di tempat (rumah) yang sama dengan tempat anak itu dibesarkan dan dilahirkan.

Rasanya ingin menyebutkan tontonan yang ada di media di Indonesia yang begitu banyak menyuguhkan tontonan yang variatif untuk anak, tapi sayang sekali kopi ini sudah tinggal tetes terakhir.

Kalian cuma latah! Hak anak Indonesia semua terpenuhi!

Advertisements

One thought on “Kalian cuma latah! Hak anak Indonesia semua terpenuhi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s