Rembang Bukan untuk Tambang, tapi Pangan.

Tri Dharma Perguruan Tinggi:

1. Elit kampus di jabatan politik.

2. Dosennya intelektual pesanan.

3. Mahasiswanya penggembira acara-acara TV.

– Dandhy Laksono

Kutipan di atas muncul dari akun twitter pribadi milik Dandhy Laksono, dia mengeluarkan cuitan tersebut terkait dengan isu pembangunan pabrik semen di Rembang oleh PT. Semen Indonesia.

Warga melawan korporasi yang akan mengeksploitasi alam bukan lah isu yang baru di Indonesia, mungkin sudah tidak bisa dihitung lagi oleh jari yang ditangan mengenai perseteruan ini. Dan bukan hal yang aneh pula bila banyak korporat yang menang dalam kasus perebutan lahan, perizinan yang dengan mudah didapatkan mereka dari para tangan penguasa lah yang membuat mereka menang. Bukan hanya korporat yang melawan rakyat dalam perebutan lahan, aparat pun ikut melawan warga dalam persengketaan tanah yang terjadi di Kecamatan Rumpin, Bogor, kala itu TNI AU bersengketa dengan petani.

Namun isu yang sekarang hangat adalah perlawanan warga yang terhadap korporat yang akan mengeksploitasi alam adalah di Teluk Benoa dan Kendeng, sebenarnya masih banyak perlawanan yang dilakukan warga, seperti Kulon Progo, mesuji dan banyak lagi.

Perlawanan yang dilakukan di Rembang dilakukan dengan militan oleh para Ibu-ibu petani melawan aparat yang bengis dan lupa kalau mereka dilahirkan oleh rahim seorang ibu.

Kekejaman aparat terhadap ibu-ibu Rembang

Bahkan perlawanan ibu – ibu ini banyak menuai fitnah yang menyerang. Fitnah yang terakhir beredar hangat di media sosial bahwa mereka ini adalah massa bayaran. Mana ada masa bayaran yang rela dibayar 50 ribu per hari yang menangisi lahannya, dipukuli oleh aparat dan juga meninggalkan keluarganya. Bagaimana pun mereka itu adalah ibu – ibu yang mulia, fitnah keji yang mengambil isu pengeksploitasian wanita tak membuat mereka gentar. Bahkan hari ini, Ibu – ibu rembang dan para petani lainnya menggeruduk kampus UGM Yogyakarta berkaitan dengan kesaksian salah satu dosen mereka, Eko Haryono, di persidangan di PTUN Semarang yang menyebutkan bahwa lahan yang ada di pegunungan Kendeng adalah lahan tandus. Gila! Tak perlu menjadi dosen ahli untuk melontarkan perkataan bodoh seperti itu, bila dipikir pakai logika saja, mana mungkin petani menggarap lahannya apabila lahannya tandus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s