Lawan, Kawan, Tiran dan Tuhan

106-year-old Armenian Woman Guards Home, 1990
United Nations

 

Membumikan lanskap angkara

Demi membuka pintu neraka

Tirani menuntun pada genosida

Bergantung pada penghancuran berhala

Kutukan dipanjatkan pada semesta

Bagai alkohol bercampur luka

Penindasan selalu menatap karma

Nazar pertempuran menjadi bara

 

Aktivis anti-fasis yang kini cuma jadi wacana, serupa kematian Tan Malaka atas nama merdeka. Mereka menjadi budak selangkangan janda, menyembah langit demi mendapatkan pintu surga.

Hidup dibayangi akan keputus-asaan, mencaci maki semua yang berucap harapan. Mengabdilah mereka pada korporat tanpa kesadaran, kemudian mereka menjadi Tuhan.

Menyebut pergerakan sebagai bahaya laten atas nama keamanan, atas nama stabilitas, atas nama malaikat, nabi dan juga Tuhan.

Di tanah ini pembangkangan menjadi bahasan basi, setiap orang berkelahi demi sesuap nasi. Para pemimpin memberikan buaian dengan ribuan mimpi, rakyatnya menuju titik berangkat yang tak pernah dapat didatangi kembali.

Kami mengumpulkan martil dari reruntuhan harapan demi menyaingi senapan kalian.

Kami merayap tanpa suara menahan kesakitan.

Kami memasang badan dan kepalan di tengah pendudukan.

Kami lakukan apapun termasuk menjadi Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s