Eksotisme Pulau Biawak yang Berbahaya

Setiap orang butuh hiburan, liburan adalah hiburan yang asik untuk menghilangkan penat. Pergi berlibur ke Pulau Biawak adalah sebuah kebahagian yang tak ternilai harganya, banyak pengalaman dari yang asik sampai near death experience pun saya dapatkan kali ini.

Bersama teman – teman dari Performa saya pergi ke pulau ini, kita tiba di Pelabuhan Karangsong yang berada di Indramayu sekitar jam 3 malam. Karena cuaca sedang tidak baik, angin berhembus kencang dan sedang bulan purnama, maka keberangkatan pun harus ditunda. Kami berangkat sekitar jam setengah 5, berangkat dari pelabuhan malam hari dan menggunakan perahu nelayan membuat diri tahu bagaimana rasanya menjadi nelayan yang harus berangkat melaut malam hari diterpa dengan angin laut yang begitu kencang. Diri ini sangat takjub ketika melihat alga-alga bersinar dibawah perahu, seakan – akan sedang main dalam film Life of Pi, ini merupakan pengalaman dan pengetahuan baru bagi saya. Setelah melihat keajaiban yang ada di laut, mata pun tak kuasa menahan rasa kantuk yang teramat sangat terlebih saat perjalanan dari Bandung kurang tidur dan tak bisa tidur lelap dan nyaman ketika menunggu keberangkatan di Pelabuhan karena tidur beralaskan aspal jalan.

Matahari pun membangunkan dengan sinarnya yang hangat, melihat sunrise di tengah laut merupakan pengalaman pertama yang sungguh mengasyikan di tengah gempuran gelombang laut yang maha dahsyat kala itu. Menikmati mentari terbit tak semesta membuat diri ini kebal akan mabuk laut, hingga akhirnya hal itu pun terjadi, lega setelah mengeluarkan meskipun awalnya terasa sangat pusing. Sekitar jam 7 pagi kami tiba di pulau Gosong, pulau yang katanya banyak menyimpan cerita mistis ini menyuguhkan pemandangan bawah laut yang teramat cantik. Banyaknya bulu babi tak membuat kecantikan bawah laut pulau ini berkurang, yang bertambah hanyalah rasa takut terkena oleh bulu babi. Mempunyai kemampuan berenang yang amat payah, tak menyiutkan nyali untuk menikmati keindahan bawah laut dengan snorkeling, ya ini merupakan pengalaman pertama. Setelah asik main air, perut pun minta waktu untuk diberi makan, tak disangka masakan yang dibuat oleh nelayan terasa begitu lezat, tak ada dua, awalnya sempat meragukan kemampuan dapur mereka karena hampir semua awak kapalnya adalah kaum adam.

Beres mengisi tenaga kami berangkat ketujuan utama yaitu Pulau Biawak, gelombang besar tak mengahalangi langkah untuk menjawab semua rasa penasaran yang ada. Setibanya di sana kami disuguhkan dengan pemandangan yang indah dan ketenangan yang teramat luar biasa. Bebas dari suara bising kendaraan, tak ada polusi cahaya, hanya ada bintang dan gugusannya yang menyinari malam, ditambah lagi masakan malam yang dibuat oleh nelayan yang tak ada duanya, tak ada aliran listrik pun tak masalah malam itu. Di hari pertama kami belum bertemu sapa dengan biawak.

Keesok hari, akhirnya kami bertemu dengan binatang yang dijadikan nama pulau ini, mereka jinak dan juga besar, awalnya takut tapi rasa takut pun kalah oleh rasa penasaran. Setelah bercengkrama dengan reptil ampibi ini, main air adalah acara selanjutnya, diving adalah suatu kewajaran dan hal yang harus dicoba di pulau ini, tapi sayang tak ada satu pun yang mempunyai sertifikat diving, berenang saja sudah payah. Memutuskan untuk snorkeling juga bukan lah keputusan yang benar, karena hanya pasir pantai dan ikan – ikan kecil saja yang terlihat. Bermain adalah keputusan yang terbaik bagi yang tidak bisa diving.

Bermain air aja bisa menimbulkan kematian di sini, karena teman saya, Bangun, terkena sengatan ikan lepu batu. Awalnya kami hanya mengejek dia tetapi setelah sampai di Bandung kami tahu kalau itu bisa menimbulkan kematian. Memutuskan untuk pulang lebih cepat adalah keputusan tepat saat itu, karena pertolongan pertama yang diberikan oleh para penduduk setempat dan nelayan dirasa kurang cukup, kami pun disarankan untuk segera kembali ke Pulau Jawa.

Di perjalanan pulau baru lah kami merasakan bagaimana rasanya pasrah mau mati, near death experience itu tak perlu harus merasakan rasa sakit, rasa was – was ketika terombang ambing di tengah ganasnya gelombang di Laut Jawa ditambah dengan lepasnya kendali kapal adalah hal yang bisa membuat mati menjadi pikiran utama. Selamat dari peristiwa itu menunjukan kebesaran-Nya dan menambahkan rasa sadar pada diri ini bahwa manusia tidak dapat melawan alam, karena manusia akan selalu kalah oleh alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s